Jumat, 22 September 2017

Tidak Pernah Shalat Tapi Menjadi Penghuni Surga

Hasil gambar untuk ksatria sahabat rasul

Penghuni surga yang tidak pernah shalat sekalipun, apa yang ada dibenak kamu mendengar kata itu?. Namun itulah hidayah, ia menyapa manusia disaat yang tidak disangka-sangka. Dan apabila hidayah itu telah menyapa manusia maka tidak ada yang bisa merubahnya dan tidak pula menghentikannya.

Karena hidayah milik Allah, dan diberikan kepada siapa yang ia kehendaki. Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Seharusnya kita menjadi hamba-hamba yang ingin mendapatkan hidayah Allah. Orang yang ingin mendapatkan hidayah Allah nampak dalam pribadi dan kesehariannya untuk mengemis ridha-Nya.

Dan inilah kisah seorang hamba Allah yang padanya Allah curahkan hidayah dalam sanubarinya. Dan juga sebagai bukti bahwa mati itu tidak kenal ruang dan waktu. Ia akan datang kapanpun dan dimanapun. Maka sebaik-baik kita adalah hamba yang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.

Izinkan saya bercerita sebuah kisah unik yang mungkin belum temen-temen dengarkan. Kisah seorang penghuni surga namun tidak pernah Shalat sepanjang hayatnya. Shalat adalah kunci utama peraih surga, namun berikut adalah kisah dari Sirah Nabawiyah Ibn Hisyam tentang penghuni surga yang paling anti-mainstream.

Diriwayatkan dari Ibnu Sufyan maula Ibnu Abi Ahmad bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meminta kepada para sahabat dan berkata, "Ceritakan kepadaku mengenai kisah seseorang yang masuk Surga padahal belum pernah shalat sekali pun sepanjang hidupnya!" Ternyata para sahabat tidak ada yang mengetahui.

Akan tetapi para sahabat balik bertanya, "Siapakah dia?" Abu Hurairah menjawab, "Ushairim Bani Abdul Asyhal ‘Amr bin Tsabit bin Waqsy."

Ushairin Bani Abdul Asyhal adalah seorang musyrikin. Sebelum cahaya kebenaran masuk ke dalam hatinya, ia adalah sosok manusia yang permusuhannya terhadap Islam sungguh sangat besar. Ia berusaha mengajak dan mempengaruhi kaumnya untuk menentang Nabi Muhammad untuk tidak masuk ke agamanya, bahkan ia menghina dan mengejek serta menjelek-jelekkan Nabi Muhammad dengan sebutan-sebutan yang kurang enak didengar telinga.

Al-Husharim berkata, "Aku bertanya kepada Mahmud bagaimana kehidupan Ushairim sebelumnya?" Mahmud menjawab, "Sebelumnya dia enggan memeluk Islam sebagaimana kaumnya, namun kemudian ia masuk Islam".

Ia masuk Islam di pagi hari, kemudian bersyahadat. Kemudian bertanya kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat, namun waktu shalat belum tiba. Kemudian dia diajak untuk berjuang membela nama Allah dan iapun berangkat. Ia mengambil pedang dan berangkat menuju medan perang. Dia menyerang dan memberikan perlawanan sehingga terluka di beberapa bagian tubuhnya, dan syahid.

Tatkala orang-orang dari Bani Abdul Asyhal mencari para korban dalam peperangan ini, mereka mendapati Ushairim. Mereka bertanya, 'Ini jasad Ushairim, apa yang menyebabkan dia datang dalam peperangan ini? Bukankah dia tidak berkenan ikut serta dalam peperangan ini?'

Mereka mempertanyakan status Ushairim sehingga berada dalam pertempuran ini, 'Wahai Amr, apa yang menyebabkan kamu berada di sini. Karena setia kepada kaummu ataukah simpati kepada Islam?'

Amr menjawab, 'Karena cintaku terhadap Islam, aku telah beriman kepada Allah dan Rasulullah, kemudian aku angkat senjataku dan aku berperang, sehingga keadaanku seperti ini.' Ushairim meninggal dunia di tengah-tengah kaumnya, kemudian mereka memberitahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, 'Sesungguhnya dia termasuk penghuni Surga'."

Inilah Uhsairim, belum 24 jam ke-Islamannya namun syahid terlebih dahulu mendahuluinya daripada waktu shalat. Ia menjadi penghuni surga yang dahinya belum pernah menyentuh tanah untuk bersujud memuliakan Allah. Namun ia telah mengorbankan jiwanya untuk membela kemuliaan Islam.

Ini bukan soal ia tak pernah shalat namun masuk surga. Tapi ini persoalan bahwa ajal tidak pernah dapat diduga. Kita tidak dapat memastikan kapan kita meninggal. Bisa jadi kita yang selama ini beribadah dengan sungguh-sungguh namun takdir mendahului, kita berbuat maksiat dan dimatikan dalam bermaksiat. Ataupun sebaliknya.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

Suatu hal yang sangat dahsyat bagi siapa yang dikehendaki-Nya untuk meraih kemuliaan hidayah Allah yang sangat mahal itu, dan tidak ada seorang pun yang bisa untuk menolak dan menghentikannya. Apabila Allah sudah berkehendak.

Perjalanan hidup seseorang siapapun dia pasti selalu dibatasi oleh kematian, dan sebaik-baik kematian adalah mati syahid di jalan Allah.

Semoga saya dan pembaca sekalian mendapatkan anugrah dari Allah untuk dimudahkan dan ditetapkan pada akhir yang baik dan membahagiakan

Sumber : www.zulfanafdhilla.com

Belajar Mengikhlaskan Cinta dari Sahabat Salman Al Farisi


Hasil gambar

Salman Al-Farisi adalah seorang pemuda Persia. Salman al-Farisi tak lain adalah mantan budak di Isfahan, salah satu daerah di Persia. Salman al-Farisi adalah sahabat Rasulullah yang spesial. Ia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah pada saat kaum kafir Quraisy Makkah bersama pasukan sekutunya menyerbu Rasulullah dan juga kaum muslimin dalam perang Khandaq.
Untuk kisah cintanya, Salman al-Farisi merasakan jatuh cinta ketika Rasulullah dan kaum muslimin hijrah menuju kota Madinah. Maka di kota inilah Salman al-Farisi berniat untuk menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi seorang wanita Sholihah. Saat itu diam-diam Salman al-Farisi menaruh perasaan cinta kepada seorang wanita muslimah Madinah nan sholihah yang disebut kalangan Anshar. Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita pujaan hatinya.
Akhirnya Salman al-Farisi mendatangi sahabatnya yaitu Abu Darda. Ia bermaksud meminta bantuan dari sahabatnya, Abu Darda untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya. Setelah mendengar cerita sahabatnya tersebut, Abu Darda pun begitu girang. Ia pun memeluk Salman al-Farisi dan bersedia membantu dan juga mendukung sahabatnya itu. Tak ada perasaan ragu bahkan menolak dalam diri seorang Abu Darda. Dan inilah kesempatan Abu Darda untuk membantu saudara seimannya.
Salman akhirnya mendatangi rumah sang gadis pujaannya dengan ditemani oleh Abu Darda.
Keduanya diterima dengan sangat baik oleh tuan rumah. “Saya adalah Abu Darda dan ini adalah saudara saya Salman al-Farisi dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam dengan jihad dan amalannya. Dia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah menganggapnya sebagai keluarganya,” ujar Abu Darda mengawali pertemuannya dengan orang tua seorang gadis yang akan dipinangnya.
“Saya datang untuk meminang putri anda, untuk saudara saya ini Salman al-Farisi,” lanjut Abu Darda menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Mendengarnya, tuan rumah tersebut merasa terhormat, “Alhamdulillah, menjadi kehormatan bagi kami didatangi oleh dua shahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan juga bagi kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita.
Meski yang datang adalah sahabat Rasulullah, sang ayah tetap meminta persetujuan dari putrinya. “Jawaban lamaran ini sepenuhnya hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” ujar sang ayah kepada mereka berdua.
Namun apa sebenarnya jawaban wanita tersebut? Jawaban iya atau tidak untuk Salman.
Ternyata wanita sholihah tersebut, dengan hati berdebar, telah mendengar percakapan ayahnya, bersama dua orang pemuda shahabat Rasulullah SAW tersebut dari balik hijab di dalam kamarnya.
Mewakili sang putri, ibunya pun berkata, “Mohon maaf kami harus berterus terang,” ujarnya membuat Salman dan Abu Darda tegang menanti jawaban.
“Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak Salman.”
Sang bunda melanjutkan, “Namun jika Abu Darda memiliki tujuan yang sama, maka putri kami lebih memilih Abu Darda sebagai calon suaminya.”
Jawaban ibu wanita tersebut tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun Salman tegar mendengar jawabannya. Salman menerima ketentuan tersebut dengan ikhlas dan ridho, karena dia meyakini Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik untuk dirinya. Bahkan reaksinya luar biasa, dengan berbesar hati dia berkata, “Allahu Akbar!”
Tak hanya itu bahkan Salman menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, dia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi wanita tersebut. “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini, akan aku serahkan pada Abu Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ujar Salman dengan kelapangan hati yang begitu hebat.
Betapa indahnya kebesaran hati Salman al-Farisi yang begitu faham bahwa cinta, kepada seorang wanita tidaklah memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum melaksanakan ijab qabul diikrarkan, cinta tidak menghalalkan hubungan dua insan. Tak hanya itu, ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati.[]
Sumber: jalansirah.com

Jika bukan kami, maka siapa yang engkau maksud ya rosul ?


Hasil gambar

Suatu hari para sahabat sedang berkumpul, Rasulullah menangis amat dalam, hingga tetes air matanya membasahi janggutnya. Nampak pada wajahnya sebuah pancaran kerinduan yang amat sangat pada seseorang.
“Apa yang membuatmu bersedih, ya Rasulullah?” tanya para sahabat.
Rasul menjawab, “Aku sedang merindukan sahabat-sahabatku…”
Sahabat terdiam. Saling berpandangan. Kemudian mereka berkata lagi, “Bukankah saat ini kami ada di dekatmu, yaa Rasulullah?
Rasul mendongak. “Bukan kalian yang aku maksud…” ujarnya lirih.
Sahabat menjadi terheran bingung.
“Jika bukan kami,” ujar para sahabat lagi. “Lalu siapa yang engkau maksud, ya Rasulullah? Hingga engkau merindu begitu mendalam terhadap mereka. Sungguh mulia dan berbahagialah mereka karena mendapatkan kerinduan dan cintamu.”
“Kalian adalah sahabatku yang aku mencintai kalian dan kalian juga mencintaiku, kalian tinggal dan hidup bersamaku, berjuang bersamaku dan telah berkorban banyak untukku.
“Sahabat yang aku rindukan tadi adalah umatku di masa yang akan datang. Mereka tak pernah berjumpa denganku, tak pernah belajar langsung dariku, kecuali dari para ulama-ulama mereka.
“Mereka begitu mencintaiku seperti kalian mencintaiku
“Mereka sholat seperti aku sholat, mereka berhaji seperti aku berhaji, mereka makan dan minum seperti aku makan dan minum, mereka berpakaian seperti aku berpakaian. Mereka menjalankan semua tuntunanku dalam ketaatan dan cinta.
“Sungguh aku amat merindukan perjumpaan dengan mereka, kelak di yaumil akhir aku baru bisa berjumpa dengannya.” []
Sumber : jalansirah.com

Kisah cinta mengharukan zainab dan abul 'ash

Gambar terkait

Zainab dilahirkan sepuluh tahun sebelum diangkatnya ayah beliau sebagai Nabi. Beliau putri pertama Rasulullah SAW.
Zainab menikah dengan putra bibinya yaitu Abul ‘Ash bin Rabi’. Dia adalah pemuda Quraisy yang tulus dan bersih.
Dalam pernikahannya Zainab dan Abul ‘Ash dikarunia dua orang anak yang bernama Ali dan Umamah.
Pada suatu saat ketika Abul ‘Ash berada dalam suatu perjalanan, terjadilah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. Yaitu diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Nabi dengan membawa risalah.
Bersegeralah Zainab menyambut seruan dakwah yang haq yang dibawa oleh ayahnya yaitu Rasulullah. Beliau jadikan agama Allah sebagai pedoman hidup dan undang-undang yang mana beliau berjalan di atasnya.
Tatkala suaminya kembali dari berpergian, Zainab menceritakan perubahan yang terjadi pada kehidupannya yang mana bersamaan dengan kepergian suaminya munculah agama Allah yang baru dan luas. Namun semua tidak seperti yang Zainab bayangkan dia tidak menduga bahwa suaminya menyikapi kabar tersebut dengan diam dan tak bereaksi.
Kemudian Zainab mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan suaminya, namun suaminya menjawab, “Sesungguhnya bukan saya tidak percaya dengan ayahmu, hanya saja saya tidak ingin dikatakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengkafirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan keridhoan istriku.”
Hal itu membuat Zainab kecewa, karena suaminya tidak mau masuk Islam. Maka rumah tangganya menjadi guncang dan gelisah. Dan tiba-tiba kegembiraan menjadi kesengsaraan.
Zainab tinggal di Makkah di rumah suaminya dan tidak ada seorang pun di sisinya yang dapat meringankan penderitaannya karena jauhnya dirinya dengan kedua orang tuanya. Ayahnya telah hijrah ke Madinah bersama sahabat-sahabatnya sedangkan ibunya yaitu Khadijah telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Saudari-saudarinya pun sudah menyusul ayahnya ke Madinah.
Terjadilah perang badar, kaum kafir Quraisy mengajak Abul ‘Ash untuk memerangi kaum muslimin. Akhirnya nasib Abul ‘Ash menjadi tawanan kaum muslimin.
Ketika itu Zainab mengutus seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang dibayarkan kepada ayah beliau beserta kalung yang dihadiahkan ibu beliau yakni Khadijah.
Selanjutnya Rasulullah membebaskan Abul ‘Ash dan mengambil janji darinya yaitu membiarkan jalan Zainab karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.
Maka kembalilah Abul ‘Ash ke Makkah sementara Zainab menyambutnya dengan gembira. Akan tetapi Abul ‘Ash datang dalam keadaan lesu dan ada tersirat rasa kesedihan, kemudian dia berkata kepada istrinya, “Aku datang untuk berpisah wahai Zainab!”
Berubahlah sikap Zainab dari gembira menjadi sedih serta meneteskan air mata. Zainab bertanya dengan terbata-bata, “Hendak ke mana? Dan untuk keperluan apa?”
“Bukan saya yang akan pergi tapi kamu wahai Zainab, karena ayahmu telah meminta kepadaku agar aku mengembalikanmu kepadanya karena Islam telah memisahkan kita. Aku juga berjanji akan menyuruhmu untuk menyusul ayahmu, dan tidak mungkin bagiku untuk mengingkari janji.
Maka keluarlah Zainab dari Makkah, meninggalkan Abul ‘Ash dengan perpisahan yang sangat mengharukan. Akan tetapi orang-orang Quraisy menghalangi hijrahnya Zainab dan mengancam beliau. Ketika itu Zainab sedang hamil dan akhirnya karena peristiwa tersebut gugurlah kandungannya. Selanjutnya beliau kembali ke Makkah dan Abul ‘Ash merawatnya hingga kekuatannya pulih kembali. Kemudian Zainab keluar ketika orang-orang Quraisy sedang lengah dan berhasil sampai di Madinah dengan ditemani Kinanah bin Ar-Rabi’.
Pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriyah Abul ‘Ash mengetuk pintu Zainab di Madinah. Kemudian Zainab membuka pintu tersebut. Seolah-olah beliau tidak percaya melihatnya bahwa yang ada di hadapannya adalah Abul ‘Ash. Zainab ingin mendekat dengannya namun zainab menahan dirinya karena seharusnya dipastikan akidahnya, karena akidah adalah yang pertama dan terakhir.
Abul ‘Ash berkata, “Kedatanganku bukan untuk menyerah, akan tetapi saya keluar untuk berdagang membawa barang-barangku dan juga milik orang-orang Quraisy , namun tiba-tiba aku bertemu pasukan ayahmu. Selanjutnya mereka mengambil barang-barang yang saya bawa dan aku pun melarikan diri dan sekarang aku mendatangimu dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu.”
Rasulullah menemui putrinya Zainab dan bersabda, “Muliakanlah tempatnya dan janganlah dia berbuat bebas kepadamu karena kamu tidak halal baginya.”
Selanjutnya Zainab memohon kepada ayahnya untuk mau mengembalikan harta dan barang-barang Abul ‘Ash.
Maka para sahabat Rasulullah mengembalikan harta dan barang-barang milik Abul ‘Ash.
Abul ‘Ash kembali ke Makkah dengan membawa sebuah tekad yaitu dia bertekad mengembalikan harta-harta orang Quraisy serta bertekad akan memeluk Islam.
Abul ‘Ash bertolak ke Madinah sebagai seorang muslim. Beliau berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya.
Akhirnya Rasulullah mengembalikan Zainab kepada Abul ‘Ash. Mereka membangun rumah tangga sebagaimana sebelumnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan dalam balutan akidah yang satu yaitu Islam.
Baru satu tahun mereka bersatu kembali, Allah memisahkan mereka kembali dan kali ini merupakan perpisahan yang tidak akan bertemu kembali di dunia yang fana ini. Zainab sakit karena bekas keguguran yang sebelumnya menimpa beliau dan wafat pada tahun 8 Hijriyah. []
Sumber: Mereka Adalah para Shahabiyat/ Penulis: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, dkk/ Penerbit: At-Tibyan/ Juli, 2012

Seseorang itu Diwafatkan atas Apa yang Dicintainya


Hasil gambar

Salah seorang Syaikh menceritakan sebuah kisah yang mengharukan :

Suatu saat aku mengisi kajian di sebuah masjid di kota fulan, datanglah imam masjid tersebut dan berkata : wahai Syaikh ! di kota ini, tepatnya 2 pekan yang lalu, telah terjadi suatu peristiwa yang sangat menakjubkan, aku balik bertanya : peristiwa apa yang terjadi ya akhi ? Maka Imam Masjid tersebut mulai bercerita: kami mendengar ada seorang pemuda yang tertabrak kereta api saat melintas di rel kereta api maka aku langsung pergi ke tempat kejadian tersebut dan aku dapatkan pemuda tersebut dalam keadaan sangat kritis, ususnya berhamburan keluar dari perutnya dan tangan kirinya juga telah putus.

Maka aku berkata kepadanya : wahai anakku ! Ucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah. Lalu pemuda itu  memandang kepadaku, aku pun mengulang kembali perkataanku, wahai anakku ucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah ! Maka pemuda tersebut berkata : laa ilaaha illa Allahu kemudian nafasnya terhenti dan meninggal, lalu aku berusaha mencari kartu identitsnya di salah satu kantong di bajunya untuk mengetahui nama dan alamatnya.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah salib ditangannya, ternyata pemuda ini seorang nashrani, maka imam Masjid tadi berkata : kita akan pergi ke rumah pemuda tersebut untuk menyampaikan kisah ini kepada keluarganya, semoga bisa menjadi pelajaran bagi mereka.

Maka kami bersama dengan kaum muslimin yang lainnya, sekitar kurang lebih 2000 orang, berangkat menuju rumah keluarga pemuda tersebut untuk berta’ziah dan mengabarkan tentang keadaannya sebelum meninggal, ketika kami sampai di rumahnya, bapak pemuda tersebut berkata : sungguh anakku senang sekali mendengarkan Al-Qur’an dan berkehendak masuk Islam akan tetapi aku selalu melarangnya, maka kami pun bertakbir dan mengatakan : sungguh Allah telah memberikan taufiq kepadanya ketika melihat kejujurannya.

Hikmah dari peristiwa ini adalah :

Ketika seseorang jujur dengan Allah dan mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya maka Allah akan memberikan taufiq sesuai dengan apa yang diinginkan dan dicintainya. Nabi kita yang mulia telah bersabda yang artinya : “barang siapa mencintai sesuatu maka ia akan diwafatkan diatasnya”

Wahai saudaraku ! Kembalilah kepada Allah dan bertanyalah kepada dirimu sendiri, amal perbuatan apa yang paling engkau cintai? Apakah amal tersebut mendekatkan dirimu kepada Allah dan menjauhkanmu dari neraka atau malah sebaliknya, menjauhkan dirimu dari Allah dan mendekatkanmu kepada neraka?

Kita hanya bisa memohon kepada Allah husnul-khotimah, pungkasan yang terbaik bagi kehidupan kita di dunia sebelum di akherat.


By: Ust. Abu Sa’ad

Penyesalan Sahabat Sya'ban RA Ketika Sakaratul Maut

Hasil gambar

Alkisah seorang sahabat bernama Sya'ban RA Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat – sahabat yang lain. Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf dipojok depan masjid. Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah. Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah. Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA. Namun tak ada seorangpun yang menjawab. Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA. Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.
      
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud. Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha  ( kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut beliau Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

"Benarkah ini rumah Sya'ban ?" Rasulullah saw bertanya.

"Ya benar, saya istrinya," jawab wanita tersebut.
"Bolehkah kami menemui Sya'ban? ia tidak hadir sholat subuh di masjid?"

"Beliau telah meninggal tadi pagi". jawab istri Sya'ban sembari berlinang ari matanya.
"Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun" sahut Rasul dan para sahabat yang hadir disana.  

Satu–satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya. Beberapa saat kemudian istri Sya’ban  bertanya kepada Rasulullah saw.


''Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua,  yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing – masing teriakan disertai satu kalimat.  Kami semua tidak paham apa maksudnya.'' 

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah saw

"Di masing – masing teriakannya dia berucap kalimat
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Rasulullah saw pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:


"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam."

"Saat Sya’ban dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah swt. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah swt. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ( dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain. Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah – langkah nya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk sorga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:


“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

"Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah. 
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju. Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus."

"Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan. Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama – sama ke masjid melakukan sholat berjamaah. Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah." 
"Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi:"

“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “

"Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru."

"Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia). Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut , Sya’ban merasa iba . Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama – sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan porsi yang sama…"

"Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban dengan sorga yang indah. Demi melihat itu diapun berteriak lagi:"

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”.Sya’ban kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah"

Masyaallah,Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal. Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas.konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan Sering sekali kita mendengar ungkapan – ungkapan berikut :
☆ “ Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam”
☆ “ Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam”
☆ “ Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”

Namun lihatlah Masjid tetap saja lengang dan terasa longgar. Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah swt. Mengapa demikian? Karena apa yang dijanjikan Allah swt itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal. Mata kita tertutupi oleh suatu hijab. Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah meleset. Allah swt akan membuka hijab itu pada saatnya. Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan...
      

Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah swt tersebut...

Pelita si Buta

Hasil gambar untuk lentera


Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Melihat hal itu, orang buta tersebut terbahak dan berkata, "Buat apa saya bawa pelita ? Kan sama saja buat saya ! Saya bisa pulang kok."  
Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.  



Tak berapa lama dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata ! Beri jalan buat orang buta dong !" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. 

Kemudian orang buta tersebut melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta ? Tidak bisa lihat ya ? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat !" 

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta ! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam !"
 
Si buta tertegun. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."
 

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanannya masing-masing.
 

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta tersebut. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam ?"
 
Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."
 
Senyap sejenak. Secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta ?"
 
Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
 

Ketika mereka sedang mencari pelita mereka, lewatlah seseorang. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Sepertinya saya perlu membawa pelita, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."
 

Refleksi Hikmah : 

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan !).
 

Si buta pertama, mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, TIDAK SADAR bahwa LEBIH BANYAK JARINYA yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
 

Penabrak pertama, mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun sebenarnya mereka bisa melihat. 

Penabrak kedua, mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. 

Orang buta kedua, mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. 

Orang terakhir yang lewat, mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan. 

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing ? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam ? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sumber : abiwafadilah.blogspot.com 

Benarkah Samson Itu Seorang Nabi?


Hasil gambar untuk nabi samson

Siapa yang tidak kenal dengan sosok manusia yang menjadi pahlawan, gagah berani, kekuatan tangannya dapat melunakkan besi baja, dan merobohkan bangunan. Mungkin sahabat pernah menonton film Samson yang dibuat oleh orang-orang barat yang sebagian besar ceritanya dimanipulasi atau direkayasa yang hanya menunjukkan sosok manusia yang hebat dan gagah perkasa, tetapi sudah tahukah bahwa Samson adalah seorang nabi Allah.

Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa jumlah nabi menurut hadits yaitu 124 ribu orang, dan rasul berjumlah 312 orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rasul.

Dari Abi Dzar ra. Berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, "Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi." "Lalu berapa jumlah Rasul diantara mereka?" Beliau menjawab, "Tiga ratus dua belas (312)." (Hadits riwayat At-Turmuzy)

Nah lalu bagaimana dengan Samson atau Simson, apakah benar dia adalah salah satu dari 124 ribu jumlah nabi. Samson merupakan salah satu dari ribuan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam'un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa. Nabi Sam'un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Cerita Nabi Sam'un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh
sebelum Rasulullah lahir.

Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah saw. berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam'un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.

Dikisahkan Nabi Sam'un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam'un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam'un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam'un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Singkat cerita Nabi Sam'un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya
dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam'un berkata kepada isterinya, "Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku
dengan potongan rambutku."

Akhirnya Nabi Sam'un Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan
kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja. Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam'un Ghozi AS berdoa kepada
Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Do'a Nabi Sam'un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah SWT.

Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam'un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : "Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam'un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak. Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasulullah SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, "Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?" Rasullah menjawab, "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk kedalam surga, dia adalah Sam'un."

Demikian kisah Nabi Sam'un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson. Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.
Sumber : http://seribusatukisahislami.blogspot.co.id/2014/09/kisah-samson-samun-al-ghozi.html

Kisah Seorang Anak dan Sebuah Paku

Hasil gambar


Di masa lalu ada seoarang anak Muslim yang memiliki seorang anak lelaki bernama Mahmud. Anak lelakinya itu tumbuh menjadi seorang yang lalai menunaikan kewajiban-kewajibannya. Meskipun telah banyak ajakan, nasihat, dan perintah bapaknya agar Mahmud mengerjakan shalat, puasa, dan amal saleh lainya, Mahmud tetap meninggalkanya. Malah, ia suka bermaksiat. Mahmud suka berjudi, mabuk dan berbagai kemaksiatan lainya.

Suatu hari, bapaknya itu memanggil Mahmud, dan berkata, "Anakku, engkau ini suka lalai beribadah dan malah suka berbuat maksiat. Mulai hari ini, aku akan menancapkan paku pada tiang di halaman rumah kita.
Setiap kali, engkau berbuat maksiat maka aku akan menancapkan satu paku ke tiang itu. Akan tetapi, setiap kali engkau berbuat satu kebajikan maka aku akan mencabut sebatang paku dari tiang ini.

Sesuai dengan janjinya, setiap hari bapaknya menancapkan beberapa batng paku pada tiang itu, saat ia mengetahui Mahmud kembali bermaksiat. Kadang-kadang, dalam satu hari, ia sampai menancapkan puluhan paku di tiang itu. Ia jarang sekali mencabut paku itu keluar dari tiang karena Mahmud nyaris tidak pernah beramal saleh.

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu, bulan pun berganti bulan, tidak terasa tahun demi tahun pun terus beredar. Tiang yang berdiri di halaman rumah Mahmud nyaris dipenuhi paku dari bawah hingga ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu di penuhi paku. Ada paku-paku yang sudah berkarat karena hujan dan panas.

Setelah melihat tiang di halaman rumahnya penuh dengan paku yang membelalakan mata, timbullah rasa malu pada diri Mahmud. Ia pun berniat untuk bertobat dan memperbaiki dirinya. Mulai saat itu juga, Mahmud mulai mengerjakan shalat. Hari itu saja, lima butir paku telah di cabut bapaknya dari tiang itu. Besoknya, Mahmud shalat lagi di tambah dengan shalat sunnah sehingga paku-paku di tiang halaman rumahnya itu semakin banyak yang di cabut bapaknya.

Hari berikutnya Mahmud meninggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat sehingga semakin banyaklah paku-paku yang di cabut bapaknya. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mahmud lakukan, dan semakin banyak maksiat yang ditinggalkanya, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang itu.

Kemudian bapaknya memanggil Mahmud dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir dan akan aku cabut keluar sekarang. Tidakkah engkau gembira?"
Mahmud terdiam sambil memandang tiang itu. Ia bukanya gembira seperti dugaan bapaknya, Mahmud malah menangis terisak-isak.
"Kenapa anakku?" tanya bapaknya, "aku menyangka, engkau tentu akan gembira karena semua paku itu telah aku cabuti."

Dalam tangisnya, Mahmud berkata, "Wahai bapakku, sungguh benar kata-katamu, paku-paku itu telah tiada, tetapi aku bersedih karena parut-parut lubang dari paku itu tetap membekas di tiang, bersama dengan karatnya. Begitu dengan kemaksiatan yang telah aku lakukan. Bekas dan karatnya pun masih ada. Bantulah aku untuk menjadi lebih baik.

Bapaknya pun langsung mengiyakannya. Ia memeluk Mahmud dengan perasaan haru dan bahagia, melihat Mahmud telah sadar sepenuhnya.



HIKMAH DIBALIK KISAH

Kisah diatas merupakan sebuah pelajaran bagi kita agar senantiasa merubah diri dari perbuatan yang tadinya sangat dibenci oleh Allah SWT. menjadi seorang yang taat dan senantiasa membersihkan diri dari perbuatan dosa. Allah SWT. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang bagi hambanya yang ingin bertobat dan memperbaiki diri agar menjadi manusia yang taat dan bermanfaat untuk diri sendiri dan bahkan untuk orang lain.

Sisa atau bekas dosa yang telah kita perbuat akan tetap ada, namun kita tentunya punya keinginan yang kuat dan sungguh-sungguh untuk bertobat, sehingga Allah SWT. akan menghapus dan membersihkan bekas dosa yang kita perbuat dan akan membaguskan diri kita dengan amaliah-amaliah yang disukai-Nya.

Kisah Pemuda Yang Dimaafkan

Gambar terkait

Pada masa Umar bin Khatab R.A., ada dua orang pria yang menyeret seorang pemuda ke dalam ruang pengadilan. Jadi Umar bin Khatab R.A. bertanya “Ada apa ini? Kenapa kau menyeretnya ke dalam ruang pengadilan?” Mereka berkata “Anak ini telah membunuh ayah kami.” Umar bin Khatab bertanya kepadanya “Apakah kau benar-benar membunuh ayah mereka?” Anak itu berkata “Ya, aku memang membunuh ayah mereka, tapi secara tidak sengaja. Untaku suka menginjak-injak barang mereka. Jadi pada suatu hari, ayah mereka mengambil batu dan menimpuk untaku dengan sebuah batu. Aku marah karena melihat untaku kesakitan, jadi aku mengambil sebuah batu dan menimpuk ayah mereka dengannya. Batu itu mengenai kepalanya dan dia meninggal.”

Jadi Umar bin Khatab R.A. bertanya kepada dua bersaudara itu “Akankah kalian memaafkan pemuda ini karena ketidaksengajaannya?” Mereka berkata “Tidak, kami ingin pembalasan (Qisas).” Jadi Umar bin Khatab R.A. bertanya kepada pemuda itu “Apakah kau punya keinginan terakhir?” Anak muda itu berkata “Ya, ayahku telah wafat dan aku punya seorang adik. Dan ayahku meninggalkan harta warisan untuk adikku. Aku minta waktu 3 hari untuk mengambil harta warisan ini dari tempat tersembunyi, jadi aku dapat memastikan adikku mendapatkannya ketika aku telah tiada.”

Kemudian Umar bin Khatab berpikir bahwa anak ini hanya mengarang-ngarang cerita, dia berkata “Apa maksudmu anak muda? Kekayaan apa? Siapa ayahmu? Siapa adikmu?” Pemuda itu berkata “Percayalah padaku.” Umar bin Khatab berkata “Baiklah, aku akan mempercayaimu, tapi carikan aku seorang penjamin yang akan menjamin bahwa kau akan kembali.”

Pemuda itu melihat orang-orang di sekelilingnya. Setiap orang yang dimintai tolong oleh pemuda itu menolaknya, mereka semua menggelengkan kepala, tidak ada seorang pun yang mau menolong pemuda ini. Tapi kemudian dari barisan belakang ruang pengadilan, ada tangan yang terangkat. Tangan siapakah itu? Itu adalah tangan Abu Dzar al-Ghifari R.A., seorang sahabat Rasulullah yang saleh dan terkenal, yang pernah berdakwah kepada banyak suku. Dia berkata “Aku akan menjamin pemuda ini.”

Apa artinya menjadi seorang penjamin? Artinya jika pemuda ini tidak kembali, maka kepala Abu Dzar al-Ghifari R.A. lah yang akan dipenggal dan dia akan dibunuh. Tapi Abu Dzar al-Ghifari berkata “Aku akan menjadi penjamin dirinya.”

Jadi pemuda itu pergi. Hari pertama berlalu dan pemuda itu belum kembali. Hari kedua berlalu dan pemuda itu belum kembali juga. Waktu shalat Ashar telah tiba pada hari ketiga, kedua orang yang menuntut perkara datang kepada Abu Dzar al-Ghifari R.A. dan mereka berkata “Ikutlah dengan kami ke ruang pengadilan, sudah tiba waktunya.” Abu Dzar al-Ghifari R.A. berkata “Aku akan ikut dengan kalian ke tempat pengadilan tapi hari ini belum berakhir hingga Maghrib datang.”

Jadi sekarang Abu Dzar al-Ghifari berjalan melalui Madinah bersama kedua orang ini untuk menuju ke pengadilan. Dan orang-orang Madinah mengikuti mereka. Semua orang pergi ke pengadilan untuk melihat apa yang akan terjadi, semua ini telah menjadi perbincangan orang-orang di kota.

Kita bisa bayangkan, menit demi menit berlalu, ruang pengadilan semakin terisi penuh, kecemasan semakin meningkat, akankah nyawa Abu Dzar al-Ghifari dikorbankan karena kesalahan seorang pemuda?

Tiba-tiba, beberapa menit sebelum Adzan Maghrib, pemuda itu kembali dan orang-orang bersorak gembira. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Jadi ketika pemuda itu masuk ke ruang pengadilan, Adzan Maghrib belum selesai berkumandang.

Umar bin Khatab R.A. bertanya kepada pemuda itu “Wahai pemuda, kenapa kau kembali? Aku tidak mengirim seorang pun untuk mengawasi gerak-gerikmu, jadi apa yang membuat kau kembali?” Pemuda itu berkata “Aku tidak mau ada orang yang berkata bahwa seorang muslim telah berjanji, namun dia tidak menepatinya, jadi aku kembali.” Umar bin Khatab kemudian bertanya kepada Abu Dzar “Wahai Abu Dzar, apa yang membuatmu mau menjadi penjamin untuk pemuda ini?” Dia berkata “Aku melihat seorang muslim yang butuh pertolongan, dan aku tidak mau siapapun mengatakan bahwa seorang muslim sedang butuh pertolongan, namun tidak ada seorang pun yang mau menolongnya, jadi aku bersedia menjadi penjamin baginya.” Kedua orang yang menuntut berkata “Ketika ada orang-orang seperti ini, bagaimana mungkin seorang muslim meminta ampunan, namun tidak ada seorang pun yang mau mengampuninya?” Jadi mereka mengampuni pemuda itu.



Inilah pusaka masa lalu Islam, inilah sikap mereka, inilah mengapa pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab mereka mampu menjangkau perbatasan Cina hingga ke selatan Prancis, karena mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah, mereka melakukan segala sesuatunya dengan ihsan, dan mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.