Minggu, 28 Januari 2018

"Tidak Terkenal di Dunia tetapi Terkenal diantara Penduduk Langit"


Related image

“Mohon kalian semua duduk,” kata Umar kepada rombongan yang datang di sekitaran Ka’bah. Saat itu Umar sudah menjabat sebagai seorang khalifah. Artinya, itu adalah era di mana Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wassalaam dan Abu Bakar As-Shidiq sudah meninggal dunia.
Keadaan cukup ramai karena sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Musim haji telah tiba. Orang-orang dari segala penjuru mendatangi kota Mekah untuk beribadah. Dan wajarnya ibadah haji pada era itu, yang dibawa pun sekalian barang dagangan. Ibadah sekalian berjualan. Itulah yang membuat keadaan di pusat kota Mekah saat Umar mengumpulkan para calon jamaah haji jadi terlihat semakin riuh.
“Silakan duduk, kecuali orang-orang yang berasal dari daerah Qaran,” lanjut Umar bin Khattab. Semua orang-orang yang di hadapan Umar duduk bersila. Sedangkan orang-orang dari Qaran tetap berdiri.
“Siapa di antara kalian yang bernama Uwais?” tanya Umar kepada orang-orang yang masih berdiri.
Semua orang yang berdiri bergeming. Saling pandang satu sama lain, seperti saling menyelidik dan bertanya-tanya. Umar pun paham, di antara orang-orang ini, tidak ada orang yang dimaksud.
“Adakah di antara kalian yang mengenal orang yang bernama Uwais al-Qarni?” tanya Umar lagi dengan suara keras mengingat di hadapannya ada cukup banyak orang.
Kasak-kusuk mulai terdengar, orang-orang ini mulai bingung. Ada apa sosok seterhormat khalifah Umar menanyakan Uwais? Orang-orang Qaran ini heran. Uwais hanya orang biasa, rakyat jelata, dan tidak punya kedudukan apapun. Bahkan bagi penduduk Qaran, Uwais hanyalah orang gila yang dikucilkan dari masyarakat. Itulah yang kemudian membuat salah satu pria yang berdiri sedikit maju ke depan untuk berbicara kepada Umar.
“Wahai, Umar. Apa yang Anda inginkan darinya? Uwais adalah orang yang tidak dikenal kecuali oleh orang-orang sekitarnya. Ia tinggal di gubuk reyot. Hidup sendiri dan tidak bergaul dengan manusia,” kata perwakilan orang Qaran ini.
Tanpa diduga oleh orang-orang Qaran dan calon jamaah haji yang duduk, Umar justru sumringah. Seperti menemukan seseorang yang selama ini ditunggu-tunggu. Dengan sedikit terburu-buru Umar mendatangi orang tersebut.
“Sampaikan salamku padanya. Pada Uwais. Mohon, mintakan kepadanya untuk segera menemuiku di Mekah,” kata Umar.
Tentu saja semua yang melihat ini bertanya-tanya. Siapa orang yang dimaksud Umar itu? Dan apa yang membuatnya jadi terlihat begitu istimewa sampai seorang Umar—salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad, khalifah penerus Abu Bakar As-Shidiq—seperti berupaya keras untuk menyelidiki dan mencari sosoknya. Rasa penasaran yang tidak hanya muncul dari orang-orang Qaran, tapi juga jamaah haji yang sedang duduk.
Rasa penasaran itu mengerucut pada satu pertanyaan: Siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni?
Uwais adalah pria tambun, berkulit coklat gelap, kepalanya botak, berjenggot tebal dan lebat. Sering mengenakan sorban dari kain wol, wajahnya cukup menjengkelkan sekaligus punya tatapan mata yang menakutkan.
Paling tidak, itulah kesan yang dilihat oleh Harim bin Hayyan al-‘Abdi, seorang muslim yang bertemu dengan Uwais setelah kabar seorang Khalifah Umar mencari sosok tidak dikenal itu sampai ke Kota Kufah di tepi Sungai Efrat.
Seperti yang diceritakan ulang oleh Abu Al-Qasim An-Naisaburi dalam kitab Uqola al-Majaaniin, kitab kebijaksanaan orang-orang yang dianggap gila atau memang gila betulan, setelah mendapat pesan dari Umar, orang Qaran ini pun pulang ke kampung halamannya setelah ibadah haji. Ia menyampaikan pesan istimewa ke Uwais dengan penuh tanda tanya. Barangkali dalam hatinya, ada urusan apa seorang Uwais, sosok yang dicampakkan di perkampungannya, malah mendapat “undangan kenegaraan” langsung dari khalifah umat Islam sedunia.
Mendapat undangan istimewa tersebut, tentu saja Uwais segera ke Mekah mendatangi Umar. Begitu keduanya bertemu, Umar langsung menyapa, “Apakah benar Anda adalah Uwais? Uwais Al-Qarni?” tanya Umar.
“Ya, benar, wahai Amirulmukminin,” jawab Uwais.
“Apakah Anda pernah memiliki penyakit kusta, lalu Anda berdoa dan penyakit Anda sembuh? Lalu Anda berdoa kembali agar dikembalikan lagi penyakit kusta tersebut, lalu dikabulkan lagi, tapi hanya setengah dari penyakit yang pertama?” tanya Umar.
Uwais terkejut luar biasa melihat Umar tahu hal tersebut. Mengingat Uwais hanyalah sebatang kara dan dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya.
“Benar apa yang Anda sampaikan, Amirulmukminin,” kata Uwais masih terkejut, “Siapa yang mengabari Anda tentang semua itu? Demi Tuhan, tidak ada yang mengetahui peristiwa tersebut kecuali Tuhan.”
Umar lalu menjawab, “Yang memberitahuku adalah Rasulullah. Beliau memerintahkanku untuk memohon kepada Anda agar berkenan mendoakan saya.”
Karuan saja Uwais semakin heran dengan penjelasan Umar. Namun sebelum keluar kata-kata dari Uwais, Umar kembali melanjutkan kata-katanya.
“Karena beliau bersabda tentang seorang pria yang memberi syafaat kepada orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari Bani Rabi’ah dan Mudlar. Lalu beliau menyebut namamu,” jelas Umar.
Apa yang disampaikan Umar adalah hadis dari riwayat Hasan. Suatu kali Nabi Muhammad bersabda, “Ada orang-orang dalam jumlah lebih banyak dari Bani Rabi’ah dan Mudlar kelak yang akan masuk surga karena syafaat seorang pria dari umatku. Maukah kalian aku beritahu siapa nama pria itu?”
Para sahabat menjawab, “Tentu saja, Wahai Rasulullah.”
“Pria itu adalah Uwais Al-Qarni.”
Setelahnya lalu keluar perintah Nabi untuk Umar, “Wahai Umar, apabila engkau menemukannya, sampaikan salamku untuknya, berbincanglah dengannya sehingga dia mendoakanmu.” Sebuah riwayat yang juga terdapat dalam kitab Shahih al-Jami ash-Shaghir karya Jalaluddin as-Suyuthi.
Mendengar segala keistimewaan itu Uwais bukannya jadi besar kepala, pesannya pun sederhana kepada Umar, “Wahai Amurilmukminin, saya punya permohonan untuk Anda,” kata Uwais.
“Apa itu, Uwais?” tanya Umar.
“Tolong sembunyikan soal jati diri saya yang Anda dengar dari Rasulullah dan izinkanlah saya untuk segera beranjak dari tempat ini,” kata Uwais.
Umar pun mengabulkan permohonan tersebut. Dalam kesaksian Harim bin Hayyan, Uwais berkata kepadanya, “Aku tidak suka perkara ini,” setelah Harim meminta hadis dari riwayat Uwais.
“Aku tidak ingin menjadi mukhaddits (ahli hadis), kadi (hakim), dan mufti (pencetus fatwa). Aku tak suka diriku sibuk dengan manusia,” jawab Uwais yang ingin menjauh dari gelar-gelar duniawi sekalipun itu terlihat seperti gelar dari agama.
Di tempat persembunyiannya itulah Uwais menghabiskan sisa hidupnya. Sampai kemudian keberadaan Uwais yang tidak terdeteksi oleh orang banyak itu muncul kembali saat ditemukan dalam keadaan syahid saat Perang Shiffin bergejolak. 
Sumber: Arrahmah.com

Selasa, 05 Desember 2017

Adzan Terakhir Bilal Bin Rabbah

Gambar terkait

Semenjak Rasulullah wafat, Sahabat Bilal ibn Rabbah menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.


Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata, "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."



Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.



Kesedihan sebab ditinggal wafat oleh Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia bersama rombongan pasukan Fath Islamy berangkat menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.



Sudah lama Bilal tak mengunjungi Madinah, hingga sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa ? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku ? Mengapa sampai seperti ini ?"



Bilal pun bangun terperanjat, segera ia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, kepada Sang Kekasih.



Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua itupun memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.



Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami ? Kami ingin mengenang kakek kami."



Ketika itu, Umar bin Khattab yang saat itu telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan tersebut, dan beliaupun juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.



Bilal pun memenuhi permintaan itu.



Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.



Mulailah dia mengumandangkan adzan.



Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun - tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.



Ketika Bilal meneriakkan kata 'Asyhadu an laa ilaha illallah', seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.



Dan saat bilal mengumandangkan 'Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah', Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.



Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang telah menerbitkan rasa kerinduan penduduk Madinah kepada Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkan.


Dan pada saat itu, Kota Madinah banjir oleh air mata kerinduan kepada Rasulullah. Allaahumma Sholli 'Alaa Muhammad.

Sumber: http://alkisaah.blogspot.co.id

Senin, 09 Oktober 2017

Sepenggal Kisah dari Cairo Sebuah Kota Indah di Pinggir Sungai Nil

Hasil gambar untuk Beautiful Sungai Nil

Seorang Syekh yang bijak dan alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman…
Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar:
“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”
Syekh yang alim dan bijak itu menjawab:
“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.
Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.
Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata…….uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya.
Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah ar rozzaq :
“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Robbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan.
Mereka belum mendapatkan makanan hari ini.
Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.
Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah. Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.
Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya :
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”
Sang murid menjawab:
“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku:
“Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.
Sang guru melanjutkan pelajarannya.
Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam :
-   Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam adalah suatu pemberian.
- Mendo’akan temanmu muslim di belakangnya (tanpa sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.
-   Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya juga suatu pemberian.
-   Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di belakangnya adalah pemberian lagi.
Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja. jadikanlah semua ini pelajaran.
sumber: kisahislam.net

Sabtu, 07 Oktober 2017

3 Syarat dari Semut untuk Nabi Sulaiman

Gambar terkait
Pada suatu hari, ketika Nabi Sulaiman a.s. tengah berbaring, ada seekor semut berjalan di dadanya. Kemudian ia ammbil semut itu dan dilemparnya jauh.
Dengan marah, semut itu berkata, “Wahai Nabi Allah, mengapa engkau lemparkan aku dengan begitu keras? Apakah kamu lupa bahwa pada hari kiamat nanti kamu akan berdiri di hadapan Pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhannya langit dan bumi, yang Mahaadil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya?”
mendengar kata-kata semut itu, Nabi Sulaiman a.s. pingsan. Setelah siuman ia memandangi semut tersebut dan berkata, “Maafkanlah sikap zalimku tadi terhadapmu.”
Si semut menjawab, “Aku akan memaafkan perbuatanmu tadi degan tiga syarat.”
Mendengar perkataan tersebut, Nabi Sulaiman berkata, “Sebutkanlah ketiga persyaratanmu tersebut!”
“Syarat yang pertama adalah jangan kamu tolak orang yang meminta kepadamu. Sesungguhnya orang yang meminta kepadamu adalah orang yang sedang meminta karunia Allah, maka jangan sampai kamu cegah karunia Allah kepaada makhluk-Nya,” kata semut. “Kemudian yang kedua adalah jangan tertawa berlebih-lebihan sehingga kamu terlena dengan dunia dan menyaangka bahwa kamu telah menjalani semua tugasmu dengan baik di dunia ini. Sehingga hatimu menjadi keras, sedangkan kamu telah dimuliakan oleh Allah dengan diberikan kerajaan ini,” lanjut semut.
“Lalu apa syaratmu yang terakhir?” Tanya Nabi Sulaiman a.s.
“Sedangkan syaratku yang ketiga adalah jangan sampai kedudukanmu menghalangimu untuk menolong orang yang meminta pertolonganmu,” jawab semut.
Mendengar pernyataan semut itu, Nabi Sulaiman a.s. berkata, “Insya Allah semua persyaratanmu itu akan aku jalani.”
“Jika begitu aku telah memaafkanmu,” kata semut.
Sumber: Islampos.com

Jumat, 22 September 2017

Tidak Pernah Shalat Tapi Menjadi Penghuni Surga

Hasil gambar untuk ksatria sahabat rasul

Penghuni surga yang tidak pernah shalat sekalipun, apa yang ada dibenak kamu mendengar kata itu?. Namun itulah hidayah, ia menyapa manusia disaat yang tidak disangka-sangka. Dan apabila hidayah itu telah menyapa manusia maka tidak ada yang bisa merubahnya dan tidak pula menghentikannya.

Karena hidayah milik Allah, dan diberikan kepada siapa yang ia kehendaki. Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Seharusnya kita menjadi hamba-hamba yang ingin mendapatkan hidayah Allah. Orang yang ingin mendapatkan hidayah Allah nampak dalam pribadi dan kesehariannya untuk mengemis ridha-Nya.

Dan inilah kisah seorang hamba Allah yang padanya Allah curahkan hidayah dalam sanubarinya. Dan juga sebagai bukti bahwa mati itu tidak kenal ruang dan waktu. Ia akan datang kapanpun dan dimanapun. Maka sebaik-baik kita adalah hamba yang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.

Izinkan saya bercerita sebuah kisah unik yang mungkin belum temen-temen dengarkan. Kisah seorang penghuni surga namun tidak pernah Shalat sepanjang hayatnya. Shalat adalah kunci utama peraih surga, namun berikut adalah kisah dari Sirah Nabawiyah Ibn Hisyam tentang penghuni surga yang paling anti-mainstream.

Diriwayatkan dari Ibnu Sufyan maula Ibnu Abi Ahmad bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meminta kepada para sahabat dan berkata, "Ceritakan kepadaku mengenai kisah seseorang yang masuk Surga padahal belum pernah shalat sekali pun sepanjang hidupnya!" Ternyata para sahabat tidak ada yang mengetahui.

Akan tetapi para sahabat balik bertanya, "Siapakah dia?" Abu Hurairah menjawab, "Ushairim Bani Abdul Asyhal ‘Amr bin Tsabit bin Waqsy."

Ushairin Bani Abdul Asyhal adalah seorang musyrikin. Sebelum cahaya kebenaran masuk ke dalam hatinya, ia adalah sosok manusia yang permusuhannya terhadap Islam sungguh sangat besar. Ia berusaha mengajak dan mempengaruhi kaumnya untuk menentang Nabi Muhammad untuk tidak masuk ke agamanya, bahkan ia menghina dan mengejek serta menjelek-jelekkan Nabi Muhammad dengan sebutan-sebutan yang kurang enak didengar telinga.

Al-Husharim berkata, "Aku bertanya kepada Mahmud bagaimana kehidupan Ushairim sebelumnya?" Mahmud menjawab, "Sebelumnya dia enggan memeluk Islam sebagaimana kaumnya, namun kemudian ia masuk Islam".

Ia masuk Islam di pagi hari, kemudian bersyahadat. Kemudian bertanya kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat, namun waktu shalat belum tiba. Kemudian dia diajak untuk berjuang membela nama Allah dan iapun berangkat. Ia mengambil pedang dan berangkat menuju medan perang. Dia menyerang dan memberikan perlawanan sehingga terluka di beberapa bagian tubuhnya, dan syahid.

Tatkala orang-orang dari Bani Abdul Asyhal mencari para korban dalam peperangan ini, mereka mendapati Ushairim. Mereka bertanya, 'Ini jasad Ushairim, apa yang menyebabkan dia datang dalam peperangan ini? Bukankah dia tidak berkenan ikut serta dalam peperangan ini?'

Mereka mempertanyakan status Ushairim sehingga berada dalam pertempuran ini, 'Wahai Amr, apa yang menyebabkan kamu berada di sini. Karena setia kepada kaummu ataukah simpati kepada Islam?'

Amr menjawab, 'Karena cintaku terhadap Islam, aku telah beriman kepada Allah dan Rasulullah, kemudian aku angkat senjataku dan aku berperang, sehingga keadaanku seperti ini.' Ushairim meninggal dunia di tengah-tengah kaumnya, kemudian mereka memberitahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, 'Sesungguhnya dia termasuk penghuni Surga'."

Inilah Uhsairim, belum 24 jam ke-Islamannya namun syahid terlebih dahulu mendahuluinya daripada waktu shalat. Ia menjadi penghuni surga yang dahinya belum pernah menyentuh tanah untuk bersujud memuliakan Allah. Namun ia telah mengorbankan jiwanya untuk membela kemuliaan Islam.

Ini bukan soal ia tak pernah shalat namun masuk surga. Tapi ini persoalan bahwa ajal tidak pernah dapat diduga. Kita tidak dapat memastikan kapan kita meninggal. Bisa jadi kita yang selama ini beribadah dengan sungguh-sungguh namun takdir mendahului, kita berbuat maksiat dan dimatikan dalam bermaksiat. Ataupun sebaliknya.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

Suatu hal yang sangat dahsyat bagi siapa yang dikehendaki-Nya untuk meraih kemuliaan hidayah Allah yang sangat mahal itu, dan tidak ada seorang pun yang bisa untuk menolak dan menghentikannya. Apabila Allah sudah berkehendak.

Perjalanan hidup seseorang siapapun dia pasti selalu dibatasi oleh kematian, dan sebaik-baik kematian adalah mati syahid di jalan Allah.

Semoga saya dan pembaca sekalian mendapatkan anugrah dari Allah untuk dimudahkan dan ditetapkan pada akhir yang baik dan membahagiakan

Sumber : www.zulfanafdhilla.com